Analisis Pakar: Mengapa Harga Emas Tiba-tiba Naik Drastis di Awal Februari?

Jakarta – Memasuki awal Februari 2026, pasar komoditas dikejutkan dengan pergerakan harga emas yang melonjak signifikan. Setelah sempat mengalami koreksi tajam di akhir Januari, logam mulia ini kembali menunjukkan taringnya. Harga emas Antam bahkan tercatat melonjak hingga Rp102.000 dalam sehari pada Rabu (4/2), mendekati angka psikologis Rp3 juta per gram.

Lantas, apa yang sebenarnya terjadi di balik layar? Berikut adalah rangkuman analisis pakar mengenai pemicu utama kenaikan drastis ini.

1. Ketegangan Geopolitik yang Kian Memanas

Faktor utama yang mendorong investor “kabur” ke aset aman (safe haven) adalah situasi global yang tidak menentu. Ancaman tarif dagang 100% dari Amerika Serikat terhadap beberapa negara mitra dagang, serta isu politik terkait “Greenland,” memicu kekhawatiran pasar akan terjadinya perang dagang besar-besaran. Dalam kondisi seperti ini, emas selalu menjadi pilihan utama karena nilainya yang dianggap paling stabil.

2. Efek “Kevin Warsh” dan Kebijakan The Fed

Nominasi Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve (The Fed) menggantikan Jerome Powell pada Mei mendatang turut memberikan sentimen kuat. Pasar berekspektasi bahwa di bawah kepemimpinan baru, akan ada pelonggaran kebijakan moneter atau pemotongan suku bunga.

Catatan: Ketika suku bunga diprediksi turun, daya tarik dolar AS biasanya melemah, dan hal ini secara otomatis membuat harga emas dunia meroket.

3. Fenomena “Flight to Safety” dari Aset Kripto

Awal Februari 2026 menjadi masa yang cukup kelam bagi pasar kripto. Bitcoin dan beberapa altcoin besar mengalami penurunan nilai yang cukup dalam. Para analis melihat adanya fenomena rotation sector, di mana para investor memindahkan aset mereka dari instrumen berisiko tinggi seperti kripto ke aset yang lebih konservatif seperti emas fisik dan digital.

4. Kelangkaan Data Akibat Government Shutdown AS

Adanya penutupan sebagian pemerintahan (partial government shutdown) di Amerika Serikat menyebabkan tertundanya rilis data ekonomi penting seperti Nonfarm Payrolls. Kekosongan informasi resmi ini menciptakan ketidakpastian tinggi di pasar. Investor lebih memilih bersikap defensif dengan memborong emas sambil menunggu kejelasan data ekonomi global.

5. Akumulasi Besar-besaran oleh Bank Sentral

Tidak hanya investor ritel, bank-bank sentral dunia (terutama Tiongkok dan India) terus melakukan aksi borong untuk mendiversifikasi cadangan devisa mereka. Permintaan yang sangat tinggi dari sektor institusi ini memberikan bantalan kuat bagi harga emas untuk terus merangkak naik meski di tengah volatilitas tinggi.


Tips untuk Investor

Melihat kenaikan yang drastis ini, para pakar menyarankan investor untuk tetap tenang dan tidak terjebak Fear of Missing Out (FOMO). Mengingat spread (selisih harga jual dan buyback) yang masih cukup lebar, emas lebih disarankan sebagai instrumen investasi jangka menengah hingga panjang.